GPII Usulkan Harsono Tjokroaminoto Menjadi Pahlawan Nasional

Jakarta – Kader Ummat dan Bangsa GPII akan melaksanakan Refleski perjalanan wadah gerakan mereka yang 72 tahun. Organisasi yang didirikan oleh tokoh ormas islam ini dimaksudkan sebagai kaderisasi politik pemuda islam guna mengisi kemerdekaan republik Indonesia dengan nilai luhur dalam islam.

Di antara para tokoh itu adalah Wahid Hasyim, Moh. Natsir, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto, Anwar Harjono, Karim Halim, Ahmad Buchari, Djanamr Adjam, Sjadeli Muchsin, Adnan Sjahmi, Masmimar, Sjarwani, Anton Timur Jaelani, Moefrani Mokmin dan lain lain. Untuk memperingati semangat pendirian Organisasi ini, untuk itulah kami Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) memperingatinya dengan mengambil tema “Membangun Sinergi Untuk Indonesia ; Islam Yes NKRI Yes”.

Dan di dalam kesempatan yang berharga ini, kami ingin mengusulkan salah satu kader terbaik ummat dan bangsa ini untuk menjadi salah satu Pahlawan Nasional yaitu Harsono Tjokroaminoto.

Berikut Profil Singkat Harsono Tjokroaminoto, Ketua Umum Pertama Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Latar Belakang Keluarga

Harsono Tjokroaminoto lahir di Madiun, 24 April 1912. Adalah ketua umum pertama Pucuk Pimpinan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang berhaluan nonkooperatif dengan Belanda. Putra Haji Omar Said Tjokrominoto. Tokoh besar yang menjadi Guru Soekarno, Alimin, Kartosuwiryo, bahkan Tan Malaka.

Harsono adalah anak Ketiga dari lima bersaudara. Dua kakanya adalah Netty Utari dan Anwar Tjokroaminoto. Dan dua adiknya bernama Siti Islamiah dan Suyud Achmad Tjokroaminoto.

Harsono mengenyam pendidikan umum di ELS dan MULO. Selain sekolah umum yang disiapkan oleh Belanda, Harsono muda juga sangat tekun menuntut ilmu agama, dengan mendatangi pesantren pesantren. Sekolahnya berpindah pindah, dari Surabaya Jawatimur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta.

Berbekal pendidkan umum dan pesantren ini ditambah bimbingan dari sang Ayah membentuk kepribadiannya yang kental dengan nasionalisme dan islamisme. Nasionalisme dan Islam digabungkan olehnya dan diperjuangkan melalui Organisasi kepemudaan yang didirikan dan dipimpin olehnya yaitu Gerakan Pemuda islam Indonesia (GPII) dan untuk gerakan politiknya berupa Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Perjuangan dan Karir Politik

Sejak revolusi meletus kemudian proklamasi 17 Agustus 1945, didalam kalangan pemimpin Masyumi pada waktu itu timbul hasrat untuk mengadakan suatu ikatan dari pemuda Islam yang bersifat militan, gerakan pemuda yang mempunyai semangat jihad untuk kemerdekaan agama, bangsa dan tanah air.

Dan salah satu yang sangat besar sekali memberikan dorongan kearah pembentukan organisasi tersebut ialah M. Natsir, K.H.A. Wahid Hasjim, dan Anwar Tjokroaminoto. Perpaduan pemikiran ketiga pemimpin ini berputar pada tiga pokok tujuan, yang harus terdapat pada organisasi pemuda Islam Indonesia yang dicita-citakan, yaitu pertama meliputi revolusi, kedua harus dapat menciptakan kader-kader dan bibit pemimpin politik dari perjuangan ummat, dan ketiga harus merupakan suatu lapangan perjuangan yang dapat mempertemukan pemuda-pemuda yang berpendidikan sekolah umum.

Ketika semakin banyak pemuda Jakarta yang bergabung dengan markas perjuangan Kramat Raya 19, terpikir oleh beberapa orang untuk mengganti nama dan mengubah struktur organisasi PP STI supaya dapat menampung dan menjadi wadah perjuangan pemuda Islam. Dalam salah satu rapat anggota STI yang dipimpin oleh Suroto Kunto, yang dihadiri mahasiswa Sekolah Tinggi Islam, pemuda-pemuda Islam di Jakarta, seperti Anwar Harjono, Karim Halim, Ahmad Buchari, Djanamr Adjam, Sjadeli Muchsin, Adnan Sjahmi, Masmimar, Sjarwani, dan para pemuka Islam yang dapat dicapai ketika itu, disepakati perubahan nama PP STI, pembuatan anggaran dasar, dan memilih pengurus baru termasuk orang-orang di luar STI yang bersimpati kepada perjuangan pemuda Islam.

Kata-kata Islam dipakai, karena tekanan memang diletakkan pada kata-kata itu, memberi identitas khusus kepada segenap anggotanya. Bahwa mereka adalah pemuda Islam yang berjuang dengan azas dan dasar ke-Islam-an dalam mencari ridho Allah dan ikut mempertahankan Negara Republik Indonesia.

Untuk lebih memberi penegasan lagi, bahwa pemuda Islam yang bergerak itu memang pemuda Islam di Indonesia, maka nama Indonesia pun harus dibubuhkan dibelakangnya, sehingga wadah baru itu nama lengkapnya adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (G.P.I.I).

Pada waktu itu menjelang sore hari 16.30 wib tanggal 2 Oktober 1945 diresmikan di Balai Muslimin dengan ketua terpilih adalah Harsono Tjokroaminoto seorang tokoh pemuda, Moefraini Moekmin, shodancho yang melatih kemiliteran para mahasiswa STI, A. Karim Halim, pemuda lulusan AMS. Dengan tujuan pertama mempertahankan Negara Republik Indonesia dan kedua mensyiarkan agama Islam. Dan Harsono Tjokroaminoto untuk pertama kali terpilih memimpin Organisasi itu.

Pada masa revolusi fisik, anak ketiga dari pahlawan nasional Oemar Said Tjokroaminoto dan adik dari Siti Oetari, yang merupakan istri pertama Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno ini duduk sebagai penasihat pribadi PangIima Besar Soedirman serta ikut bergerilya bersamanya.

Kemudian menjadi anggota dalam Panitia RIS RI untuk mengembalikan bentuk Negara Kesatuan RI. Memimpin goodwiil mission Indonesia ke negara Islam dan menjadi presiden Kongres Pemuda Islam se-Dunia. Pada tahun 1972-1975 ia ditunjuk menjadi duta besar RI untuk Swiss. Dan pada tahun 1976-1978 ia menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung RI.

Selain itu Harsono merupakan Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara di Indonesia. Di zaman Belanda ia pernah berkarier sebagai guru Kweekschool PSII dan pengawas sekolah wilayah PSII Sulawesi Utara. Ia membantu dan memimpin berbagai surat kabar dan majalah yang berhaluan Islam-politik, pengarang beberapa brosur, terutama yang bercorak politik dan ke-Islam-an.

Di zaman Jepang beberapa waktu bekerja pada Domei Jakarta. Dan pernah pula meringkuk dalam sekapan Kempetai karena ikut dalam gerakan pemuda Indonesia yang hendak merobohkan pemerintahan Jepang.

Pada tahun 1946, ia menjabat sebagai wakil Menteri Negara dalam Kabinet Natsir. Dan pada tahun 1955, ia menjabat sebagai wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Burhanuddin Harahap.

Demikian penjelasan singkat tentang Milad 72 Tahun dan Launching Pahlawan Nasional ini semoga dapat dipahami dan mendapat dukungan dari semua pihak terutama pemerintah.

Dan dalam hal ini, PD GPII Karawang sangat mendukung usulan tersebut. Sebagaimana yang di kemukakan oleh ketua umumnya irwan taofik.

“Kami sangat apresiasi dan mendukung atas usulan GPII Pusat yang mengusulkan Harsono Tjokroaminoto sebagai Pahlawan Nasional. Jasanya begitu besar bagi bangsa ini dan merupakan contoh teladan yang baik bagi bangsa.” Keterangan irwan taofik  ketua GPII Karawang di sela acara millad GPII, Senin, 02 Oktober 2017.

 

Semoga pemerintah pusat menyetujui dengan usulan GPII ini, untuk menghargai jasa dan perjuangan para pejuang bangsa yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.(Ns)

Baca Juga!

Memalukan! PT Nipsea Paint And Chemicalls (Nippon Paint) Gunakan Gas Subsidi

PURWAKARTA, 10/15/2019 – Jajaran Satgas Pangan Polres Purwakarta berhasil mengungkap adanya penyaluran  tabung gas elpiji …

2 comments

  1. MUHAMMAD SYUKRI,B,S.Pd

    Negara yang kuat adalah dikarenakan pemuda yang tangguh dan mempunyai skill dlm memimpin di masa yg akan datang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com