Sikap ACTA Terkait Capres dan Cawapres, Kami Menghormati Kiyai Ma’ruf, Tapi Kami Pilih 2019 Ganti Presiden

JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menerima berkas pasangan calon Presiden dan Wakil presiden Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. KPU menyatakan kedua berkas lengkap dan ditetapkan sebagai Capres dan Cawapres.

Menyikapi Capres dan Cawapres dari kedua kubu yang telah resmi didaftarkan ke KPU pada, Jum’at (10/08/ 2018), berikut adalah sikap ACTA (Advokat Cinta Tanah Air) yang disampaikan Wakil Ketua, Ust Novel Bamukmin SH, kepada karawangmetro.com, Sabtu (11/08).

Kami dari ACTA sangat menyanyangkan Jokowi yang mengandeng Kiyai Ma’ruf Amin. Sebagaimana diketahui, ACTA pada waktu itu, yaitu saya sendiri selaku pelapor pertama untuk kasus Ahok dan atas izin Allah menjadi penyebab lahirnya Aksi Bela Islam 1410, 411 sampai pada puncaknya aksi 212.

Disini kami ingin tegaskan, Kami sangat cinta dengan Kiayi Ma’ruf. Beliau sangat berprestasi,  mengeluarkan fatwa tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok pada tahun 2016.

Pada waktu itu ACTA sebagai pelapornya, dan sebagai terusan ACTA juga bertandang ke MUI untuk meminta sikap keagamaan dari MUI  atas apa yang dilakukan AHOK.

Namun sangat disayangkan, Kiyai karismatik ini memang sangat polos dengan usia yang sudah lanjut, dan mungkin mulai terbatas alur pemikiranya sehingga bisa terkena intrik dari kubu Jokowi yang mengandengnya untuk jadi Cawapres.

Dengan keadaan seperti ini, Kiyai Ma’ruf nanti akan sangat berat bebanya. Menanggung beban dengan banyaknya janji-janji  dari Jokowi. Selain itu harus menghadapi permasalahan yang sangat banyak, semisal nilai tukar rupiah yang terus anjlok terhadap dollar, masalah melambungnya harga kebutuhan pokok, utang negara yang mencekik, belum lagi kasus kriminalisasi ulama serta para tokoh penista agama yang belum diproses secara hukum, dan segala macam ketidak adilan implikasinya akan berdampak pada wibawa ulama dan MUI nanti, terang Ust Novel.

Sedangkan untuk pasangan Prabowo – Sandi, memang terjadi pro kontra diantara kami bahkan di ACTA sendiri. Hal itu bisa dilihat hingga sampai saat ini ACTA belum mendeklarasikan dukungan PS – Sandi. Karena sikap ACTA jelas yaitu mendeklarasikan PS – UAS, tetapi karena ternyata partai koalisi keumatan belum 100% mengikuti hasil ijtima ulama, dan baru 2/3 yaitu terbentuknya koalisi partai keumatan terdiri dari Gerindra , PKS, PAN, PBB dan Partai Berkarya yang mengikuti arahan ulama yang dikomandoi oleh HRS.

PS sendiri adalah rekomendasi hasil Rakornas PA 212 dan ijtima ulama GNPF-Ulama, dan Sandiaga saat pilkada DKI juga merupakan rekomendasi musyawarah ulama Jakarta.

Dan disini kami perlu tegaskan, buat kami harga mati tidak mendukung Jokowi dan tekad kami tetap #2019 Ganti Presiden.

Kami taat pada ijtima Ulama, bahwa yang kami pilih Capres dan Cawapres pilihan ulama bukan ulama pilihan presiden, pungkasnya.(Ns)

Baca Juga!

Ponpes AN NIHAYAH Peringati Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Berkomitmen Jaga NKRI Dan Jadi Santri Mandiri

Karawang – Para santri di sejumlah daerah memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2018, pada Senin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *