Cerita Lain KASUS AKING

Saat ini di Karawang terjadi efek domino dari kasus penistan Agama yang di lakukan oleh Basuki Tjahya Purnama yang telah di vonis bersalah dan di hukum kurungan penjara 2 tahun. Banyak dari kalangan masyrakat biasa atau pejabat dan orang yang berpengaruh ikut terseret fikiran dan pernyatanya yang mirip atau paling tidak sama seperti yang di kemukakan oleh Ahok. yang menyangkut urusan SARA dan menimbulkan gejolak.

Namun seperti yang sedang kita nikmati bersama, kita sedang disuguhi drama lain di Karawang, ternyata ada beberapa fihak yang berikeras mendukung pernyatan atau paling tidak berusaha 51% diantara posisi netral dan membela pernyatan Ahok sehingga terjadilah kasus serupa di Karawang seperti yang menimpa saudara Aking Saputra S.H.

Sikap dan pernyatan yang demikian kalau di biarkan dan ikuti oleh pihak-pihak yang merasa di lindungi dan di benarkan serta di bela oleh beberapa kalangan maka tinggal tunggu waktu kehancuran bangsa ini. Maka kita harus waspada akan siasat orang atau pihak luar yang mendukung sikap pernyatan tersebut (penodaan agama) yang pada intinya bisa merongrong Indonesia dan kedaulatan NKRI.

Dan nuansa dukungan  pun berusaha di geser dengan meminta dukungan dari orang-orang politik agar suaranya lebih nyaring dan perlindungan hukumnya lebih kuat.

Kasus Aking pun hadir di Karawang mewakili salah satu sekian banyak efek domino dari contoh perilaku yang di perlihatkan tokoh publik sebelumnya atau pejabat yang tidak bisa mengontrol ucapanya. Kalau hal tersebut di biarkan maka akan di ikuti masyrakat luas. Ucapanya pun ke arah SARA. Apalagi Aking yang “kebetulan” non muslim yang putus urat malunya sehingga harus berhadapan dengan Umat Islam atau masyrakat Karawang secara umum.

Menuntut  Aking masuk ke ranah hukum dan di penjara menguasai obrolan masyrakat di Karawang dan berita di sejumlah Media lokal dan nasional.

Tak pelak hal demikian menimbulkan suasana gaduh dan menganggu kenyamanan serta menimbulkan polemik di masyrakat luas.

Karena kasus ini sudah meluas terkadang hal tersebut mengundang pernyatan yang ikut menyeret orang-orang penting. Di Karawang baru –baru ini publik di hebohkan dengan pernyatan seorang pejabat yang bisa di bilang sangat sensasional dan mengundang kegaduhan baru di  masyrakat umum. Seolah-olah pernyatan tersebut kalau di semak di lihat konteks isi nya tidak mewakili seorang pejabat karena nuansanya sangat “provokatif” dalam arti tanda kutip.

Ketika masyrakat luas ingin mendorong proses hukum Aking Saputra S.H. segera berjalan dan di tetapkan sebagai tersangka serta di lakukan penahanan,  tiba-tiba publik di kagetkan dengan pernyatan pejabat yang demikian. Padahal kalau di lihat konteks kasus hukumnya wajar saja kalau masyrakat mendorong agar polisi segera atau menyegerakan proses kasus ini karena kalau dibiarkan semakin lama bisa menimbulkan efek-efek negatif yang berefek di masyrakat luas.

Dan lucunya hal tersebut baru sebatas wacana dari Forum Masyrakat Karawang, belum di realisasikan dalam bentuk gerakan atau aksi nyata yaitu demonstrasi dan baru tahap pernyatan sikap.

Semakin hari semakin menarik dinamika kasus Aking Saputra, akankah ada aksi besar setelah pernyatan kontroversi dari pejabat tersebut atau proses berjalan dengan normal karena penyidik bisa memberi kepastian hukum pada kasus ini.

Menarik untuk disimak kelanjutan dari kasus Aking Saputra, termasuk menanti langakah penyidik menyikapi desakan dari Forum Masyarakat Karawang untuk segera melakukan penangkapan saudara terlapor yang dalam hal ini Aking Saputra S.H.

Saya yakin akan ada kejutan besar terhadap kasus yang sedang berjalan pada proses hukum ini. Kasus Aking kalau tidak di kelola secara baik dan benar  jika berkaca pada kasus yang ada di Jakarta akan panjang ceritanya.

 

Editor:Opik/Ns

Baca Juga!

Panglima LPI : Ribuan Laskar Pembela Islam Siap Amankan “Aksi 115” Indonesia Bebaskan Al-Quds dari Tirani Israel

KARMET NEWS – Antusiasme umat Islam yang akan mengikuti Aksi 115 “Indonesia bebaskan Al Quds” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *